Epilogue

Selamat datang di dunia huru-hara!

Kisah manusia-manusia tanah yang berhamburan dan berserakan di dunia fana

Mencari apa saja yang mereka cari dan berbuat apa saja yang mereka mau

Entah apa mereka tahu hidup ini sebenarnya apa, untuk apa, dan mau ke mana

_Living Life-Forever Life_





Rabu, 26 September 2012

Tragedi Tawar-Menawar



“Na…,” begitulah ibuk biasa memanggilku. Orang bilang aku semakin mirip ibukku. Ada pula yang berusul sekilas aku mirip dengan kakakku karena aku nakal. Yang jelas aku tak mirip dengan tetangga kampung seberang. Ah, tau apa bocah dua tahun ini. Yang aku tahu aku suka makan kerupuk. “Kupuk...puk…,” begitu rengekku pada mama. Aku suka bermain tanah di halaman belakang rumah. Terkadang, aku dan kakakku suka bermain bersama. Tapi itu pun hanya siang hari saat ia pulang dari sekolah. Kalau pun libur, ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain play station.
Ayah adalah orang pertama yang menginginkanku bahkan sebelum aku dilahirkan. Beliau begitu sangat ambisius ingin memilikiku karena istrinya tak mungkin bisa melahirkan lagi. Ah, tau apa bocah dua tahun ini. Aku memang dilahirkan dari rahim seorang ibu. Namun ia tak pernah menyusuiku, menimangku, meninabobokkanku, bahkan tersenyum manis padaku adalah sebuah keniscayaan yang tidak mungkin terjadi. Ibuku terlalu takut menghadapi cemooh dan cibiran atau mungkin kutukan saudara-saudaranya, kerabat-kerabatnya, teman-temannya dan mungkin juga tetangga-tetangganya. Ia terlampau paham bahwa dirinya terlanjur basah dalam air limbah yang membusuk. Dirinya telah ternistakan oleh belaian lelaki amoral dan tak berperikemanusiaan.  Mungkin ia menyesal, mungkin juga tidak. Ia terlalu belia untuk mengeluarkanku dari rahim jahanamnya. Mungkin karena itulah dengan gembira ia menyerahkanku pada ayah. Mungkin bila ia membiarkanku dalam buaiannya, aku akan menjadi penghalang terbesarnya untuk menatap dunia, menikmati kembali udara segar di luar sana. Itu pun jika masih tersisa untuknya. Ah, tau apa bocah dua tahun ini.
“Na… ,” begitulah ibuk biasa memanggilku. Entah mengapa aku begitu senang sekali jika bertemu dengan ibuk. Ibuk adalah sosok wanita yang terlalu amat penyayang walau terkadang ia geram melihat tingkahku yang tak karuan. Rumah ibuk adalah tempat pertama aku dititipkan setelah transaksi secara sembunyi-sembunyi berhasil dijalankan. Dengan sejumlah uang itulah, ayah bisa leluasa menimangku. Ah, tau apa bocah dua tahun ini. Saat itu rumah ayahku sedang dalam renovasi. Jadi sementara waktu aku dititipkan di rumah ibuk. Ibuk begitu senang dan mungkin juga prihatin saat menggendongku yang mungkin masih berumur hari. Selama sepuluh hari aku dititipkan di rumah ibuk. Mamaku bahkan hanya sesekali saja menengokku di rumah ibuk. Pada awalnya pun, aku tak yakin apakah mama ku nanti bersedia merawat dan membesarkanku di rumahnya. Mungkin hatinya merasa bengkak ketika suaminya memutuskan untuk memilikiku dari tetangga seberang. Namun ia tak bisa berulah banyak karena suaminya terlalu memuncak untuk bisa mendekapku erat. Ah, tau apa bocah  dua tahun ini.
Kehadiran pertamaku di rumah mama terasa sangat biasa-biasa saja. Hanya mungkin di awal waktu ayah masih sangat sering menemaniku. Namun setelah itu, beliau kembali pada penghidupannya lagi yaitu berjualan tempe. Kini, mamalah yang setiap hari memandikan, mengganti popok, membuatkan susu formula, dan menyuapiku makan. Meski ku tahu dalam hatinya banyak batu kerikil yang menumpuk terlalu banyak hingga tak jarang aku dibentaknya karena tak kunjung mau tidur terlelap. Terkadang ia sematkan tangannya di tubuhku karena aku terlalu banyak tingkah ketika dipakaikan baju. Terkadang pula ia biarkan aku dipermainkan oleh kakakku. Ah, tau apa bocah dua tahun ini.
Perlahan waktu, aku sedikit bisa diterima dalam keseharian mereka. Walau aku lebih banyak diabaikan namun setidaknya aku merasa lebih baik daripada aku dirawat oleh tangan seorang ibu yang hatinya terlanjur membusuk dan bernanah untuk menggendongku. Masih pantaskah ku sebut dia ibu? Mungkin ia yang seharusnya pantas bertitel  “haram”, wanita jahanam. Tapi dunia terlalu tabu untuk mendengarnya. Mereka lebih damai bila yang masih polos dan antipati klimaks sepertiku ini menyandang gelar “anak haram”. Mungkin tak hanya wanita haram yang harus disalahkan. Tapi lelaki laknat juga patut dirajam siksa. Dunia terlalu murah untuk membeli bocah-bocah sepertiku. Di sudut kota, di keramaian malam, bahkan dalam kegelapan sawah pun mereka bisa tawar-menawar untuk memperebutkan bocah seperti aku. Ah, tau apa bocah dua tahun ini.
“Na… ,” begitulah ibuk biasa memanggilku. Meski aku sudah resmi menjadi anak dari ayah dan mamaku, terkadang ibuk masih sering mengajakku ke rumahnya. “Buk…,” begitulah celotehku saat lidahku mulai berani bersilat. Itulah kata pertama yang ku ucapkan padanya. Entahlah mengapa aku berkata demikian. Mungkin karena beliau yang pertama kali merawatku saat setelah aku dilarikan kabur dari rumah sakit. Ketulusannya, keikhlasannya, dan kesabarannya tak membuatku ragu untuk memanggilnya ibuk. Bersamanya adalah seperti berada di telaga Firdaus. Tiada pernah merasa kehausan ataupun kekenyangan karena meminumnya. Menyejukkan dan mendamaikan hatiku yang terlampau sakit karena wanita jahanam dan lelaki laknat. Ibuk adalah istri dari kakak ayahku. Bapak, suami ibukku pun juga tak jauh berbeda dengan ibuk. Bahkan ia rela meneteskan air mata tatkala aku kerap kali tersungkur di lantai. Mungkin ia tahu bagaimana rasanya menjadi bocah kecil yang dibuang oleh lelaki laknat itu. Bocah yang terlampau polos dan lugu untuk menelan kepahitan sejak masih dalam kandungan. Bahkan mungkin setelah tragedi tawar-menawar itu, wanita haram mulai panik saat tau bahwa Tuan Besar mengabulkan tawarannya. Ia pun sesegera mungkin merancang strategi untuk membinasakanku dari kehidupannya. Dasar wanita bodoh! Ah, tau apa bocah dua tahun ini.
Kehidupan semakin berjalan biasa-biasa saja. Mungkin aku bukan yang pertama sukses menjadi hasil tawar menawar itu. Di kampungku sendiri, prestasi-prestasi kesuksesan itu sudah banyak diperbincangkan dan menjadi sorotan hangat. Wanita yang terpaut sedikit lebih tua daripada wanita jahanamku itu layak disebut dengan wanita haram juga meski dengan sedikit rasa malu dan berwajah batu, ia dan pasangan sepermainannya masih berkenan merawat bocah hasil tawar-menawar. Dengan rasa yang terlanjur malu besar, orangtua wanita haram itu hanya bisa tertunduk lemas dan seakan tak percaya gadis lugunya itu telah dinodai oleh tangan jahil lelaki berseragam abu-abu. Sepandai-pandai orang menyimpan bangkai, baunya pasti akan tercium juga. Tetangganya terlalu mudah bersarkastik ria dalam berdiskusi membicarakan bencana di keluarga wanita haram. Seolah itu telah menjadi tradisi turun-menurun. Mereka terlampau bangga dan terbahak-bahak, bahkan berani saling sikut dan menyerang antar tetangga untuk berebut pendengar kicauan demokratisnya yang setia. Walaupun begitu, mungkin ia lebih baik dari wanita jahanam dan lelaki laknatku. Setidaknya bocahnya tak terlalu banyak diperbincangkan dan dicibir orang-orang meski mereka juga dapat giliran. Ah, tau apa bocah dua tahun ini.
Setelah aku pun, masih ada pasangan yang terpaksa menandatangani proposal tawar-menawar berikutnya. Awalnya, tak ada yang tau jika ia sedang hamil karena memang ia bertubuh gemuk. Namun semakin lama kegemukannya nampak ganjil karena hanya perutnya yang tampak membuncit. Hingga akhirnya sang orangtua wanita itu begitu shock dan sangat terpukul tatkala mengetahui bahwa anak gadis satu-satunya mereka harus memangku jabatan wanita bernoda nista. Mirisnya, si pasangan sepermainannya tak mau tau apa yang sedang terjadi pada wanitanya. Jadilah si bapak wanita hina itu bak menenggak seribu pil koplo. Pikirannya terlanjur mabuk dan naik pitam. Dicarilah lelaki pengecut yang telah mengangkangi anak gadis satu-satunya yang mana lelaki masih berpangkat seragam abu-abu itu sempat kabur bersembunyi di ketiak bapaknya. Ah, tau apa bocah dua tahun ini.
Suatu hari, Mas Nando, anak laki-laki ibukku disuruh membeli pampers di warung saat aku sedang bermain di rumah ibuk. Tak direncana warung yang buka di kampung ibuk hanya milik orangtua si wanita haramku. Sepulang dari warung itu, Mas Nando melapor pada ibuk. “Gratis, buk. Maeng aku ditakoni pampers-e gawe sopo. Yo tak jawab gawe Na1,” katanya datar. Ibuk hanya diam. Namun mungkin dalam batinnya, beliau pasti berkomentar seluas lautan. Ah, tau apa bocah dua tahun ini. Usut punya usut, hiyakatku sedikit menyakitkan hati. Bapak si wanita jahanamku adalah pendukung setia rencana kejinya. Bapak tamak itu bertitah bilamana anak yang dilahirkan nanti lelaki maka keluarganya sendiri yang akan merawatnya karena dalam keluarganya ia tak punya anak laki-laki pun dengan cucunya. Namun bila nanti yang terlahir perempuan, dan itu aku, maka dengan senang hati ia janjikan pemberian bersyarat pada ayahku yang sebelumnya telah memesan si jabang bayi pada keluarga itu. Malang nian suratan Tuan Besar pada bocah sepertiku ini. Tapi tentu aku tak layak untuk memprotes demikian. Ah, tau apa bocah dua tahun ini.
Aku tak bisa menyalahkan Tuan Besar tersebab yang menggebu-gebu melobi abdi-abdi hitam Tuan Besar adalah wanita jahanam dan lelaki laknatku. Merekalah yang patut dan sangat layak untuk disalahkah, dituntut, dan dihukum di tiang gantungan. Mereka adalah orang terbodoh yang pernah ku tahu dalam hidupku. Saking bodohnya hingga bisikan abdi-abdi hitam Tuan Besar pun mereka indahkan juga. Mereka terlalu serakah hingga tergiur oleh retorika-retorika abdi-abdi hitam Tuan Besar yang orasinya mengalahkan SPG-SPG2 andal di showroom mobil dan toko kecantikan. Ah, tau apa bocah dua tahun ini.
Aku tak merasa heran dengan begitu banyaknya tragedi tawar-menawar itu. Beratus tahun yang lalu atau mungkin berpuluh tahun kemudian, sudah ada dan masih akan ada banyak calon-calon penawar yang mengajukan proposalnya pada Tuan Besar. Ada yang berlatar belakang suka sama suka, cinta abadi, janji sehidup semati  atau hanya sekedar untuk meramaikan parodi panggung hiburan saja. Mulai dari yang berbau kencur sampai yang berdarah uang pun ikut mengantri di loket pengajuan proposal tawar-menawar di kantor Tuan Besar. Tak ayal jika semua itu sudah dianggap sangat biasa-biasa saja, lumrah, dan pasaran. Bahkan mungkin mereka sudah siap jikalau nanti harus meneguk bir hawiyah3 dan mengunyah dendeng berbahan dasar saripati calon si bocah sebagai prasyarat diluluskannya proposal mereka oleh sang Tuan Besar.
Seandaikan nanti dunia menemui ajalnya, aku ingin mengajukan jadwal perjamuan khusus dengan Tuan Besar. Aku ingin mengajukan proposal sebab-akibat pada Tuan Besar. Aku ingin akibat tahunan yang ku tanggung ini menjadi pemberat timbangan untuk orangtua laknatku. Tersebab mereka telah mengajukan proposal tawar-menawar bodoh itu. Tersebab mereka telah mengabdi menjadi pelayan setia abdi-abdi hitam. Tersebab mereka membuang dan menyia-nyiakan hasil proposal tawar-menawar mereka pada Tuan Besar. Maka pantaslah bagi mereka untuk menjadi penghuni abadi sel hell4 selama-lamanya. Namun aku tak jua yakin bila Tuan Besar mau meloloskan proposal sebab-akibatku ini. Bisa jadi Tuan Besar sedang menunjukkan ke-Maha Hebat-an yang tiada terduga yang tak satu manusia pun bisa menjangkaunya. Biarlah, Tuan Besar sudah teramat sangatlah rapih dalam menyimpan semua rahasia di balik tabir jagad raya. Bisa jadi malah aku yang nanti dijebloskan oleh Tuan Besar di sel hina dan nista itu. Ah, tau apa bocah dua tahun ini.
Aku memang teramat pedih merasakan penghinaan wanita jahanam dan lelaki laknat itu terhadapku. Mereka tertawa dan bersenang-senang di atas penderitaan batinku selama ini. Namun aku bukanlah Tuan Besar yang bisa melakukan apapun sekehendaknya. “Kun fayakun!”5 Mantra keagungaan Tuan Besar itu tak akan pernah mungkin bisa ku alamatkan pada orangtua hinaku. Aku teramat rapuh dan gopoh untuk sekedar bisa mengingat mantra agung itu. Sudahlah aku bosan mencaci. Aku tak ingin menjadi sama seperti tetangga yang berlagak demokratis dan retoris. Aku tidaklah bodoh seperti orang tua jahanamku. Cukuplah ku titipkan surat permohonan belas kasih dari Tuan Besar agar kelak aku dikumpulkankan bersama dengan orang-orang yang tulus merawat dan menyayangiku di istana megahnya. Ibuk, Bapak, Ayah, dan Mama, merekalah penyemangat hidupku yang semoga kelak bisa bersama-sama denganku tinggal di istana megah milik Tuan Besar. Ah, tau apa bocah dua tahun ini.
Langit masih nampak bersemburat api liar. Aku masih digendong ibuk di depan rumah mama. Ia nampak kokoh menatap kendaraan yang hilir-mudik di dekat terminal.


1: “Gratis buk. Tadi saya ditanya pampers-nya untuk siapa. Ya saya jawab itu untuk Na.”
2: Sales Promotion Girl (wanita yang mempromosikan produk atau jasa)
3: Neraka hawiyah yang terdapat api yang sangat panas (QS.Al-Qari’ah:10-11)
4: Neraka
5: “Jadilah, maka terjadilah ia!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar