Epilogue

Selamat datang di dunia huru-hara!

Kisah manusia-manusia tanah yang berhamburan dan berserakan di dunia fana

Mencari apa saja yang mereka cari dan berbuat apa saja yang mereka mau

Entah apa mereka tahu hidup ini sebenarnya apa, untuk apa, dan mau ke mana

_Living Life-Forever Life_





Rabu, 26 September 2012

Tragedi Tawar-Menawar



“Na…,” begitulah ibuk biasa memanggilku. Orang bilang aku semakin mirip ibukku. Ada pula yang berusul sekilas aku mirip dengan kakakku karena aku nakal. Yang jelas aku tak mirip dengan tetangga kampung seberang. Ah, tau apa bocah dua tahun ini. Yang aku tahu aku suka makan kerupuk. “Kupuk...puk…,” begitu rengekku pada mama. Aku suka bermain tanah di halaman belakang rumah. Terkadang, aku dan kakakku suka bermain bersama. Tapi itu pun hanya siang hari saat ia pulang dari sekolah. Kalau pun libur, ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain play station.
Ayah adalah orang pertama yang menginginkanku bahkan sebelum aku dilahirkan. Beliau begitu sangat ambisius ingin memilikiku karena istrinya tak mungkin bisa melahirkan lagi. Ah, tau apa bocah dua tahun ini. Aku memang dilahirkan dari rahim seorang ibu. Namun ia tak pernah menyusuiku, menimangku, meninabobokkanku, bahkan tersenyum manis padaku adalah sebuah keniscayaan yang tidak mungkin terjadi. Ibuku terlalu takut menghadapi cemooh dan cibiran atau mungkin kutukan saudara-saudaranya, kerabat-kerabatnya, teman-temannya dan mungkin juga tetangga-tetangganya. Ia terlampau paham bahwa dirinya terlanjur basah dalam air limbah yang membusuk. Dirinya telah ternistakan oleh belaian lelaki amoral dan tak berperikemanusiaan.  Mungkin ia menyesal, mungkin juga tidak. Ia terlalu belia untuk mengeluarkanku dari rahim jahanamnya. Mungkin karena itulah dengan gembira ia menyerahkanku pada ayah. Mungkin bila ia membiarkanku dalam buaiannya, aku akan menjadi penghalang terbesarnya untuk menatap dunia, menikmati kembali udara segar di luar sana. Itu pun jika masih tersisa untuknya. Ah, tau apa bocah dua tahun ini.
“Na… ,” begitulah ibuk biasa memanggilku. Entah mengapa aku begitu senang sekali jika bertemu dengan ibuk. Ibuk adalah sosok wanita yang terlalu amat penyayang walau terkadang ia geram melihat tingkahku yang tak karuan. Rumah ibuk adalah tempat pertama aku dititipkan setelah transaksi secara sembunyi-sembunyi berhasil dijalankan. Dengan sejumlah uang itulah, ayah bisa leluasa menimangku. Ah, tau apa bocah dua tahun ini. Saat itu rumah ayahku sedang dalam renovasi. Jadi sementara waktu aku dititipkan di rumah ibuk. Ibuk begitu senang dan mungkin juga prihatin saat menggendongku yang mungkin masih berumur hari. Selama sepuluh hari aku dititipkan di rumah ibuk. Mamaku bahkan hanya sesekali saja menengokku di rumah ibuk. Pada awalnya pun, aku tak yakin apakah mama ku nanti bersedia merawat dan membesarkanku di rumahnya. Mungkin hatinya merasa bengkak ketika suaminya memutuskan untuk memilikiku dari tetangga seberang. Namun ia tak bisa berulah banyak karena suaminya terlalu memuncak untuk bisa mendekapku erat. Ah, tau apa bocah  dua tahun ini.
Kehadiran pertamaku di rumah mama terasa sangat biasa-biasa saja. Hanya mungkin di awal waktu ayah masih sangat sering menemaniku. Namun setelah itu, beliau kembali pada penghidupannya lagi yaitu berjualan tempe. Kini, mamalah yang setiap hari memandikan, mengganti popok, membuatkan susu formula, dan menyuapiku makan. Meski ku tahu dalam hatinya banyak batu kerikil yang menumpuk terlalu banyak hingga tak jarang aku dibentaknya karena tak kunjung mau tidur terlelap. Terkadang ia sematkan tangannya di tubuhku karena aku terlalu banyak tingkah ketika dipakaikan baju. Terkadang pula ia biarkan aku dipermainkan oleh kakakku. Ah, tau apa bocah dua tahun ini.
Perlahan waktu, aku sedikit bisa diterima dalam keseharian mereka. Walau aku lebih banyak diabaikan namun setidaknya aku merasa lebih baik daripada aku dirawat oleh tangan seorang ibu yang hatinya terlanjur membusuk dan bernanah untuk menggendongku. Masih pantaskah ku sebut dia ibu? Mungkin ia yang seharusnya pantas bertitel  “haram”, wanita jahanam. Tapi dunia terlalu tabu untuk mendengarnya. Mereka lebih damai bila yang masih polos dan antipati klimaks sepertiku ini menyandang gelar “anak haram”. Mungkin tak hanya wanita haram yang harus disalahkan. Tapi lelaki laknat juga patut dirajam siksa. Dunia terlalu murah untuk membeli bocah-bocah sepertiku. Di sudut kota, di keramaian malam, bahkan dalam kegelapan sawah pun mereka bisa tawar-menawar untuk memperebutkan bocah seperti aku. Ah, tau apa bocah dua tahun ini.
“Na… ,” begitulah ibuk biasa memanggilku. Meski aku sudah resmi menjadi anak dari ayah dan mamaku, terkadang ibuk masih sering mengajakku ke rumahnya. “Buk…,” begitulah celotehku saat lidahku mulai berani bersilat. Itulah kata pertama yang ku ucapkan padanya. Entahlah mengapa aku berkata demikian. Mungkin karena beliau yang pertama kali merawatku saat setelah aku dilarikan kabur dari rumah sakit. Ketulusannya, keikhlasannya, dan kesabarannya tak membuatku ragu untuk memanggilnya ibuk. Bersamanya adalah seperti berada di telaga Firdaus. Tiada pernah merasa kehausan ataupun kekenyangan karena meminumnya. Menyejukkan dan mendamaikan hatiku yang terlampau sakit karena wanita jahanam dan lelaki laknat. Ibuk adalah istri dari kakak ayahku. Bapak, suami ibukku pun juga tak jauh berbeda dengan ibuk. Bahkan ia rela meneteskan air mata tatkala aku kerap kali tersungkur di lantai. Mungkin ia tahu bagaimana rasanya menjadi bocah kecil yang dibuang oleh lelaki laknat itu. Bocah yang terlampau polos dan lugu untuk menelan kepahitan sejak masih dalam kandungan. Bahkan mungkin setelah tragedi tawar-menawar itu, wanita haram mulai panik saat tau bahwa Tuan Besar mengabulkan tawarannya. Ia pun sesegera mungkin merancang strategi untuk membinasakanku dari kehidupannya. Dasar wanita bodoh! Ah, tau apa bocah dua tahun ini.
Kehidupan semakin berjalan biasa-biasa saja. Mungkin aku bukan yang pertama sukses menjadi hasil tawar menawar itu. Di kampungku sendiri, prestasi-prestasi kesuksesan itu sudah banyak diperbincangkan dan menjadi sorotan hangat. Wanita yang terpaut sedikit lebih tua daripada wanita jahanamku itu layak disebut dengan wanita haram juga meski dengan sedikit rasa malu dan berwajah batu, ia dan pasangan sepermainannya masih berkenan merawat bocah hasil tawar-menawar. Dengan rasa yang terlanjur malu besar, orangtua wanita haram itu hanya bisa tertunduk lemas dan seakan tak percaya gadis lugunya itu telah dinodai oleh tangan jahil lelaki berseragam abu-abu. Sepandai-pandai orang menyimpan bangkai, baunya pasti akan tercium juga. Tetangganya terlalu mudah bersarkastik ria dalam berdiskusi membicarakan bencana di keluarga wanita haram. Seolah itu telah menjadi tradisi turun-menurun. Mereka terlampau bangga dan terbahak-bahak, bahkan berani saling sikut dan menyerang antar tetangga untuk berebut pendengar kicauan demokratisnya yang setia. Walaupun begitu, mungkin ia lebih baik dari wanita jahanam dan lelaki laknatku. Setidaknya bocahnya tak terlalu banyak diperbincangkan dan dicibir orang-orang meski mereka juga dapat giliran. Ah, tau apa bocah dua tahun ini.
Setelah aku pun, masih ada pasangan yang terpaksa menandatangani proposal tawar-menawar berikutnya. Awalnya, tak ada yang tau jika ia sedang hamil karena memang ia bertubuh gemuk. Namun semakin lama kegemukannya nampak ganjil karena hanya perutnya yang tampak membuncit. Hingga akhirnya sang orangtua wanita itu begitu shock dan sangat terpukul tatkala mengetahui bahwa anak gadis satu-satunya mereka harus memangku jabatan wanita bernoda nista. Mirisnya, si pasangan sepermainannya tak mau tau apa yang sedang terjadi pada wanitanya. Jadilah si bapak wanita hina itu bak menenggak seribu pil koplo. Pikirannya terlanjur mabuk dan naik pitam. Dicarilah lelaki pengecut yang telah mengangkangi anak gadis satu-satunya yang mana lelaki masih berpangkat seragam abu-abu itu sempat kabur bersembunyi di ketiak bapaknya. Ah, tau apa bocah dua tahun ini.
Suatu hari, Mas Nando, anak laki-laki ibukku disuruh membeli pampers di warung saat aku sedang bermain di rumah ibuk. Tak direncana warung yang buka di kampung ibuk hanya milik orangtua si wanita haramku. Sepulang dari warung itu, Mas Nando melapor pada ibuk. “Gratis, buk. Maeng aku ditakoni pampers-e gawe sopo. Yo tak jawab gawe Na1,” katanya datar. Ibuk hanya diam. Namun mungkin dalam batinnya, beliau pasti berkomentar seluas lautan. Ah, tau apa bocah dua tahun ini. Usut punya usut, hiyakatku sedikit menyakitkan hati. Bapak si wanita jahanamku adalah pendukung setia rencana kejinya. Bapak tamak itu bertitah bilamana anak yang dilahirkan nanti lelaki maka keluarganya sendiri yang akan merawatnya karena dalam keluarganya ia tak punya anak laki-laki pun dengan cucunya. Namun bila nanti yang terlahir perempuan, dan itu aku, maka dengan senang hati ia janjikan pemberian bersyarat pada ayahku yang sebelumnya telah memesan si jabang bayi pada keluarga itu. Malang nian suratan Tuan Besar pada bocah sepertiku ini. Tapi tentu aku tak layak untuk memprotes demikian. Ah, tau apa bocah dua tahun ini.
Aku tak bisa menyalahkan Tuan Besar tersebab yang menggebu-gebu melobi abdi-abdi hitam Tuan Besar adalah wanita jahanam dan lelaki laknatku. Merekalah yang patut dan sangat layak untuk disalahkah, dituntut, dan dihukum di tiang gantungan. Mereka adalah orang terbodoh yang pernah ku tahu dalam hidupku. Saking bodohnya hingga bisikan abdi-abdi hitam Tuan Besar pun mereka indahkan juga. Mereka terlalu serakah hingga tergiur oleh retorika-retorika abdi-abdi hitam Tuan Besar yang orasinya mengalahkan SPG-SPG2 andal di showroom mobil dan toko kecantikan. Ah, tau apa bocah dua tahun ini.
Aku tak merasa heran dengan begitu banyaknya tragedi tawar-menawar itu. Beratus tahun yang lalu atau mungkin berpuluh tahun kemudian, sudah ada dan masih akan ada banyak calon-calon penawar yang mengajukan proposalnya pada Tuan Besar. Ada yang berlatar belakang suka sama suka, cinta abadi, janji sehidup semati  atau hanya sekedar untuk meramaikan parodi panggung hiburan saja. Mulai dari yang berbau kencur sampai yang berdarah uang pun ikut mengantri di loket pengajuan proposal tawar-menawar di kantor Tuan Besar. Tak ayal jika semua itu sudah dianggap sangat biasa-biasa saja, lumrah, dan pasaran. Bahkan mungkin mereka sudah siap jikalau nanti harus meneguk bir hawiyah3 dan mengunyah dendeng berbahan dasar saripati calon si bocah sebagai prasyarat diluluskannya proposal mereka oleh sang Tuan Besar.
Seandaikan nanti dunia menemui ajalnya, aku ingin mengajukan jadwal perjamuan khusus dengan Tuan Besar. Aku ingin mengajukan proposal sebab-akibat pada Tuan Besar. Aku ingin akibat tahunan yang ku tanggung ini menjadi pemberat timbangan untuk orangtua laknatku. Tersebab mereka telah mengajukan proposal tawar-menawar bodoh itu. Tersebab mereka telah mengabdi menjadi pelayan setia abdi-abdi hitam. Tersebab mereka membuang dan menyia-nyiakan hasil proposal tawar-menawar mereka pada Tuan Besar. Maka pantaslah bagi mereka untuk menjadi penghuni abadi sel hell4 selama-lamanya. Namun aku tak jua yakin bila Tuan Besar mau meloloskan proposal sebab-akibatku ini. Bisa jadi Tuan Besar sedang menunjukkan ke-Maha Hebat-an yang tiada terduga yang tak satu manusia pun bisa menjangkaunya. Biarlah, Tuan Besar sudah teramat sangatlah rapih dalam menyimpan semua rahasia di balik tabir jagad raya. Bisa jadi malah aku yang nanti dijebloskan oleh Tuan Besar di sel hina dan nista itu. Ah, tau apa bocah dua tahun ini.
Aku memang teramat pedih merasakan penghinaan wanita jahanam dan lelaki laknat itu terhadapku. Mereka tertawa dan bersenang-senang di atas penderitaan batinku selama ini. Namun aku bukanlah Tuan Besar yang bisa melakukan apapun sekehendaknya. “Kun fayakun!”5 Mantra keagungaan Tuan Besar itu tak akan pernah mungkin bisa ku alamatkan pada orangtua hinaku. Aku teramat rapuh dan gopoh untuk sekedar bisa mengingat mantra agung itu. Sudahlah aku bosan mencaci. Aku tak ingin menjadi sama seperti tetangga yang berlagak demokratis dan retoris. Aku tidaklah bodoh seperti orang tua jahanamku. Cukuplah ku titipkan surat permohonan belas kasih dari Tuan Besar agar kelak aku dikumpulkankan bersama dengan orang-orang yang tulus merawat dan menyayangiku di istana megahnya. Ibuk, Bapak, Ayah, dan Mama, merekalah penyemangat hidupku yang semoga kelak bisa bersama-sama denganku tinggal di istana megah milik Tuan Besar. Ah, tau apa bocah dua tahun ini.
Langit masih nampak bersemburat api liar. Aku masih digendong ibuk di depan rumah mama. Ia nampak kokoh menatap kendaraan yang hilir-mudik di dekat terminal.


1: “Gratis buk. Tadi saya ditanya pampers-nya untuk siapa. Ya saya jawab itu untuk Na.”
2: Sales Promotion Girl (wanita yang mempromosikan produk atau jasa)
3: Neraka hawiyah yang terdapat api yang sangat panas (QS.Al-Qari’ah:10-11)
4: Neraka
5: “Jadilah, maka terjadilah ia!”

Rabu, 08 Agustus 2012

Isab, Si Perisai Masa Lalu

Masa lalu memang tidaklah mudah untuk dilupakan.
Bahkan mungkin tidak bisa untuk dilupakan.
Terlebih masa lalu yang begitu indah pun yang begitu pahit menyakitkan.
Namun bukan berarti masa lalu akan menjadi bayangan abadi yang selalu menghantui kita disetiap waktu.
Maka jurus terampuh dalam menyikapi masa lalu adalah dengan ilmu isab.
Ikhlas, sabar, dan bersyukur.
Sungguh, mengikhlaskan sesuatu itu tidaklah semudah mengedipkan mata.
Cobalah kita renungkan bersama bahwa masa lalu tidak akan pernah mendekat pada kita.
Bahkan seiring waktu yang bergulir, masa lalu akan semakin menjauh dan bahkan tak tampak lagi oleh kita.
Lantas, untuk apa kita masih menyibukkan diri meratap pada masa lalu?
Apakah kita masih berharap bahwa masa lalu akan kembali?
Walau "tak ada yang tak mungkin di dunia ini", namun waktu yang telah terlewatkan, sampai kapanpun tidak akan pernah kembali untuk kita.
Bahkan mungkin hanya sekedar menengok ataupun menyapa kita.
Ikhlaskanlah.
Meski tak mudah, namun bila kita mau menerima apa saja yang terjadi pada diri kita dengan hati terbuka dan bijaksana, maka kita telah membuka kunci untuk menuju gerbang ikhlas.
Yakinlah bahwa apa yang Tuhan berikan pada kita adalah semua yang terbaik untuk kita.
Meski ada yang tidak sesuai dengan keinginan atau harapan kita.
Maka bersabarlah.
Bila orang sering mengatakan bahwa kesabaran seseorang itu ada batasnya, maka itu salah besar.
Sabar itu luas tak terbatas.
Kitalah manusia yang memiliki keterbatasan dalam mengolah kesabaran.
Bukankah Allah akan selalu bersama dengan orang-orang yang sabar?
Jadi, sebenarnya tidak ada alasan yang membuat kita tidak bisa bersabar.
Memang terkadang sabar itu bisa melampaui logika manusia.
Namun bila kita mau mencoba, maka “tak ada yang tak mungkin” untuk selalu menjaga kesabaran.
Sudahilah memikirkan masa lalu yang tidak bermanfaat dan sia-sia.
Cobalah kau lihat di depanmu.
Gerbang masa depan telah melambai-lambai dihadapanmu.
Namun, bukankah kita juga harus belajar dari masa lalu?
Ya.
Kita memang harus belajar dari masa lalu.
Jadikanlah pengalaman di masa lalu sebagai aset untuk menuju gerbong kesuksesan di masa depan.
Mengingat-ingat masa lalu itu tidak untuk disesali tapi ambilah pelajaran yang berharga.
Ingatlah, bila kita terlalu lama menengok pada masa lalu maka kita akan terbelenggu olehnya.
Bebaskanlah diri kita dari belenggu masa lalu dan hiduplah untuk menggapai masa depan.
Maka bersyukurlah.
Bersyukur adalah kunci terakhir yang akan selalu membuat kita mengingat dan terus diingatkan oleh manis dan pahitnya kehidupan.
Pahamilah bahwa kehidupan ini adalah rahasia-Nya.
Hidup dengan bersyukur akan selalu membuat kita tidak pernah merasa kekurangan dan hati merasa tenang.
Jadi, jangan kau risaukan lagi dengan masa lalu mu.
Hidupilah hidupmu yang sekarang dan yang akan datang untuk menjadi bekal di kehidupan yang kekal nanti.
Ingatlah pada si isab.
Ikhlas, sabar, dan bersyukur. :)

Minggu, 24 Juni 2012

Aku nggak PeDe, Kamu?




Aku nggak PeDe kalo keluar rumah telanjang kaki, kamu?
(Kalo kakiku nginjek kotoran kucing gimana? Jijaaay……..!!)
Aku nggak PeDe kalo keluar rumah rambutku terurai dengan indah, kamu?
(Kalo rambutku nyangkut di tiang jemuran gimana? Sakiiit….!!!)
Aku nggak PeDe kalo keluar rumah betisku keliatan, kamu?
(kalo orang2 ngliatin betisku terus nabrak palang kereta api gimana? Kacian….!!)
Aku nggak PeDe kalo keluar rumah pake rok mini, kamu?
(kalo tiba2 ada adek TK yang sinis karena roknya dipake gimana? Maluuuu….!)
Aku nggak PeDe kalo keluar rumah pake pakaian tipis ‘n ketat, kamu?
(kalo pakaianku diincar para pemulung karena ngira pakaianku pakaian bekas alias “gombal” gimana? Kabuuuur…!!)
Aku nggak PeDe kalo keluar rumah maen buka2an aurat, kamu?
(kalo aku dikira orang gila gimana? Mereka bilang,”Huh, pakaian aja nggak punya tapi pake bawa2 tas ‘n buku segala. Pake pegang2 HP lagi. Udah gitu pake pamer2 di jalan. Serem liat orang2 jaman sekarang! Apa nggak bisa beda’in ya mana pakaian ‘n mana film horror. Kuntilanak aja pakaiannya lebih sopan!” - Walau nutup auratnya nggak kaffah sih!..hhehe)

Jenk Kunti
Lha ini siapa?? -.-"
Dilarang meniru mbak ini di manapun Anda berada!!


kalo yang ini, ayog ditiru abis2an!!

#Cucuran hati mahasiswa di keramaian sepi

*jika ada pihak2 yang merasa tersinggung atau dirugikan, mohon maaf yang sebesar2nya ya…
Syukur kalau sadar dan mau menutup auratnya..hhehe


Selasa, 19 Juni 2012

MENGGUGAT si PLAGIAT




Gue sering banget denger temen gue yang bilang kalo nyontek itu lebih baik daripada nggak berusaha sama sekali
nyontek rame-rame yuuuk.....asiiik!!!
Mereka bilang copy paste, nyontek, njiplak, atau apalah itu kumpulannya, itu sah2 aja asalkan nggak ketauan
Okelah, gue ambil satu kata aja yang mungkin bisa mewakili semua jenis kecurangan itu, “PLAGIAT”
“Masih mending plagiat, nyontek, masih kreatif, daripada nggak ada usaha sama sekali”
Mungkin kata2 itu sering banget kita denger di sekitar kita
Tapi apa plagiat itu kreatif ya?
Mungkin bisa
Kalo ada tingkat kekreatifan dari nilai 0 sampai 5, mungkin plagiat itu ada di tingkat terbawah alias 0 alias NO CREATIVITY AT ALL!
Andaikan si PLAGIAT ikut turnamen sepakbola kayak ISL gitu, paling PLAGIAT cuma bertengger di klasemen paling bawah or di zona degradasi
Gimana bisa plagiat dibilang kreatif?
Kalo kata awan mendung, plagiat itu nggak jauh beda sama orang yang nggak berusaha
Dia nggak mikir, nggak ngeluaran usaha, ‘n pada akhirnya cuma bisa melakukan plagiasi terhadap karya orang lain
Singkatnya cuma tekan CTRL+A, CTRL+C, ‘n CTRL+V
Nggak ada bedanya kayak nglirik jawaban ujian temen sebelah kita pas lagi ujian
Nggak jauh beda juga sama,“Gue liat tugas loe donk! Gue pinjem ntar gue balikin ya”
Nah itu kan usaha!
Ya sih, usaha membodohi diri sendiri kan?
Napa sih orang mesti plagiat?
Mungkin orang plagiat itu bisa dibilang kayak listrik lagi konslet, telepon yang kabelnya putus or tiada guna and no usaha
Jaka sembung naik getek, nggak nyambung geblek! hhahhaha
Biasanya orang plagiat itu penyebabnya bisa
1.      Mati kreativitas alias udah nggak bisa mikir
2.      Males mikir (kalo ada yang gampang ngapain cari yang susah)
3.      Krisis kepercayaan diri (punya temen gue kayaknya lebih keren daripada punya gue)
Dan mungkin masih banyak penyebab2 yang lain, semisal coba-coba
Awal nyontek nggak ketauan
Lama-lama jadi ketagihan deh
Asik kan?!
Orang plagiat karena udah nggak bisa mikir itu tingkat plagiasi yang paling parah
Awalnya dia udah berusaha untuk menciptakan suatu karya
Tapi ternyata nggak berhasil2 juga
Pada akhirnya dia menjiplak karya orang lain karena merasa udah nggak bisa mikir lagi, capek!
Lebih parahnya lagi kalo hasil karyanya dia klaim dengan bangga hasil keringatnya sendiri
Gue sering banget dikasih tau sama dosen kalo jangan pernah sampai Anda melakukan plagiasi dalam bentuk apapun
Banyak tuh dosen2 berpangkat guru besar yang ternyata karyanya cuma hasil jiplakan dari orang2 barat
Konsekuensinya titel guru besar mesti dicabut deh
Kacian..kacian..kacian..!
Orang plagiat semodel gini tuh sebenernya bisa dibilang mematikan daya pikir, daya kreativitas, daya tahan tubuh dan daya2 yang lain..hhehe
Coba loe tengok ilmuwan2 jaman doeloe
Mereka mesti melakukan percobaan berapa ratus or berapa ribu kali untuk menciptakan karya2 yang bisa kita nikmati seperti sekarang ini, contohnya telpon, kamera, alat transportasi, dsb
Semakin berat rintangannya berarti semakin dekat kita dengan jalan keluar
Bener nggak sih??
Kayak di cerita2 itu lho!
Kalo plotnya udah nyampe klimaks ntar kan pasti ada penyelesaian, resolusi, atau apalah itu namanya
So, jangan pernah menyerah untuk berusaha, kawan!
Kalo gagal di satu lubang, coba aja di lubang yang lain
Kalo nggak nemu utangan di satu pintu, gedor aja di pintu yang lain…hhahahaha
Yang kedua, orang plagiat karena udah males itu juga nggak boleh dibiarin berserakan
Gue sering banget denger temen gue bilang kalo pas mau ujian
“Aku padamu ya…”
“Aku pada siapa?,” batin gue….hhhahahaha
Orang males itu kan juga orang yang nggak mau usaha
Orang yang hanya menggantungkan diri ke orang lain dan biasanya suka menggampangkan sesuatu
“Udah gampang de, kan ada si Pinter”
Pinter nenek moyang loe!
Kalo udah gitu, segala cara jadi halal
Nyontek halal, nglirik jawaban temen juga halal asal nggak ketauan sama dosen ‘n lolos perijinan dari sumbernya
Gue sering banget ngrasa kesel dalam hati gue kalo ada temen yang bilang,”Her…nomer sembilan apa? Aku cuma nyocokin aja kok.”
Huh…nyocokin jawaban pas lagi ujian!
Musim banget tuh kayak gitu!
Buat tampang2 nggak tega’an, sering banget kasih contekan dengan mudah karena takut menyinggung perasaan temen
Tapi buat tampang2 baja or gedheg, disemprot ‘n malu sendiri loe yang ada! Hhahahaha…
Efek2nya paling pol ntar dia diomongin pelit, sombong, or dijauhi, dsb
Duh…anak jaman sekarang
Gimana bangsa mau maju kalo masalah secuil gitu aja pake jadi berita seantero dunia
Grow up, guys!
Nih udah nggak jamannya bolo2an
“Aku nggak bolo kamu kalo kamu nggak mau nyontekin!”
“Kalo kamu nggak nyontekin aku pertemanan kita putus!”
Loe temenan karena tulus dari lubuk hati yang terdalam dan menerima temen apa adanya atau karena ada apa2nya sih?
So, kalo ada temen loe yang kayak gitu karena loe nggak nyontekin dia, loe wajib bersyukur!
Coz Tuhan udah buka kedok asli temen loe…hhahahahaha
Terakhir, plagiat karena nggak PD (percaya diri) itu juga banyak banget melanda kaum pelajar, mahasiswa, intelektual, dsb
Biasanya tameng paling ampuh itu karena mereka bilang
“Ini bukan bidang gue”
“Gue nggak ahli buat bikin kayak gini”
“Aku tuh nggak bisa kalo bikin kayak beginian, bisanya buat yang kayak begitu”
Dan alasan2 yang semodel kayak di atas
Emang sih, tiap orang itu punya kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda
Tapi bukan berarti dengan kekurangan loe itu loe nggak bisa!
Salah besar!
Loe bayangin deh, apa jadinya kalo di dunia ini isinya orang pandai semua?
Nggak ada yang istimewa kan?!
Gimana mau istimewa kalo tiap orang sama2 pandai semua?
Bisa jadi orang nggak mau belajar lagi coz udah merasa pandai semua
Gawat..!!
Coba deh perhati’in gimana ibu loe pas lagi masak
Pasti pake banyak bumbu kan?
‘n nggak mungkin cuma pake satu bumbu aja
Orang pasti bilang hidup itu terasa hambar
Apa jadinya kalo masak cuma pake garem doank?
Asswiiiin……!!!
Atau cuma pake gula semua?
Mwwaanniiiss….!!!
Maka bersyukurlah kalo kita itu diciptakan berbeda-beda
Hidup bisa jadi lebih berwarna’n saling melengkapi kan?!
Sip..sip..sip…!!
Jadi, kalo loe bilang itu bukan keahlian loe bukan berarti loe nggak bisa ngerjakan begituan
Loe cuma butuh belajar, tanya sama ahlinya, berusaha, ‘n jangan lupa berdoa
Tanya donk ama temen loe yang ahli2 itu!
“Eh..gimana sih caranya bikin ini. Ajarin donk.”
Nah kalo kayak gitu kan manfaatnya temen jadi lebih baik daripada cuma dijadikan ladang contekan..hhehe
Yakinkan diri kalo loe pasti bisa nglakuin itu
Satu hal lagi, kalo udah usaha jangan nglirik karya2 yang bagus buat perbandingan
“Duh…kok dia bagus banget sih! Punya gue napa jelek gini.”
Mending bandingkan aja ama yang sama2 nggak bagusnya ….hhahaha (peace!)
Inget!
Tiap manusia punya kelebihan ‘n kekurangan masing2
Kita harus menyadari bahwa dalam hidup ini ada lebih dan kurangnya
Semua itu wajib diterima dan disyukuri
Lebih baik hasilnya jelek daripada kita njiplak hasil karya temen
Lebih baik hasil keringat sendiri daripada mandi keringat orang lain.. hhihihihi….jijaay…!!
Kalo gitu, mulai saat ini tinggalin tuh yang namanya copy paste, nyontek, njiplak, or PLAGIAT!
Banyak2lah bersyukur atas apa yang kita miliki, yang bisa jadi orang lain itu nggak punya, sob!
SAY NO TO PLAGIARISM!!!
Yuuuuuk…..!!!

Senin, 07 Mei 2012

"Dunia...

sadarlah bahwa hidup ini terlalu indah untuk disia-siakan..

kehidupan ini bukanlah seperti permainan yang bisa kita mulai dengan tombol "play" dan berhenti   kapan pun yang kita mau dengan klik "stop".
Dan juga bukanlah ketika kita “game over” lalu kita bisa “play again” atau “exit”.
Bukan..
Pun ketika “congratulations,you win” lalu kita bisa bahagia selamanya.

Kehidupan i ni bukanlah permainan..
Bukanlah untuk bersenda gurau..
karena kehidupan tak selamanya memberimu kebahagiaan..
tak selamanya memberikanmu apa yang kau inginkan..
bukankah sejatinya kehidupan ini terlalu singkat??
sungguh sangatlah singkat..

: "Aku dan dunia ibarat orang dalam perjalanan menunggang kendaraan, lalu berteduh di bawah pohon untuk beristirahat dan setelah itu meninggalkannya." (HR. Ibnu Majah)
=========================================================================
jangan sia-siakan kehidupan ini hanya untuk bersibuk ria mengerjakan amalan-amalan dunia saja..

ingatlah bahwa akan ada masanya ketika Allah mempertanyakan semua yang telah kita perbuat di dunia..
akan ada masanya ketika manusia harus mempertanggungjawabkan semua amal perbuatannya..

tak takutkah kita pada siksa neraka-Nya nanti??
Tak takutkah kita pada suatu masa yang kita pun tak tahu apakah amal kebaikan kita lebih banyak dari amal keburukan kita??
Atau mungkin sebaliknya?

“Seorang anak Adam sebelum menggerakkan kakinya pada hari kiamat akan ditanya tentang lima perkara: (1) Tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya; (2) Tentang masa mudanya, apa yang telah dilakukannya; (3) Tentang hartanya, dari sumber mana dia peroleh dan (4) dalam hal apa dia membelanjakannya; (5) dan tentang ilmunya, mana yang dia amalkan.” (HR. Ahmad)

Hidup ini sudah kita pergunakan untuk apa sajakah, kawan??
Berjalan pada jalan menuju surga-Nya ataukah jalan berujung neraka-Nya??
:”Surga..??”
:”Neraka..??”
:“Surga..??”
:”Neraka..??”
:”Surga..??”
:”Neraka..??”
:“Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang  berita yang besar, yang mereka berselisih tentangnya. Sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui. Kemudian sekali-kali tidak;kelak mereka akan mengetahui. Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? dan gunung-gunung sebagai pasak? dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan, dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, dan Kami bina di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh, dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari). Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah. Supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat? Sesungguhnya neraka Jahanam itu (padanya) ada tempat pengintai, lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yamg melampaui batas, mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya, mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah, sebagai pembalasan yang setimpal. Sesungguhnya mereka tidak takut kepada hisab, dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya. Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu Kitab. Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah pada kamu selain daripada azab. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis remaja yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta. Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak. Tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Yang Maha Pemurah. Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia. Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah, dan ia mengucapkan kata yang benar. Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”.” (QS. An Naba’: 1-40)
==================================================================================


Ingatlah..

Dunia ini adalah anugerah : “Janganlah kalian mencaci-maki dunia. Dia adalah sebaik-baik kendaraan. Dengannya orang dapat meraih kebaikan dan dapat selamat dari kejahatan.” (HR. Ad-Dailami)

dan cobaan bagi kita: “Demi Allah, bukanlah kemelaratan yang aku takuti bila menimpa kalian, tetapi yang kutakuti adalah bila dilapangkannya dunia bagimu sebagaimana pernah dilapangkan (dimudahkan) bagi orang-orang yang sebelum kalian, lalu kalian saling berlomba sebagaimana mereka berlomba, lalu kalian dibinasakan olehnya sebagaimana mereka dibinasakan.” (HR. Ahmad)
=====================================================================================

*renungan untuk diri sendiri dan manusia lain
#self-control
_a reflection_




Selasa, 17 April 2012

Silenced


Allah,
I hear that voice
The sound of misery
The voice of agony

Allah,
I'm still listening
The wind of violence
The storm of injustice

Allah,
I can't stop listening
The explotion of dread
The wave of chill

Allah,
I can see clearly now
It's dark and painful

Allah,
It's killing
It's crazy
This extraordinary of inhuman and insanity
The hell of deafness and blindness
Silenced

Oh Allah,
Forgive me..



*Palestine will be free, Insya Allah*

Sabtu, 14 April 2012

The Grotesque Face of Democracy

Today, democracy is a widespread system in the world. Many countries had taken this system to rule their country. People also think that democracy is the best system for rule a country than undemocratic governments, such as dictatorship, authoritarianism, totalitarianism, and repressiveness, which had happened in the past. In addition, undemocratic governments just caused war, violence, misery, and other dreadful things in this world. Therefore, democracy comes to heal the wound of atrocity in the entire world. However, this sincere expectation to democracy seems has not paid yet. Why? It is because democracy itself born into various meanings so then practically, democracy does not have the same form through over the world, included United States of America, European countries, and also Indonesia. Even, there are many complex issues raise because of the implementation of democracy. So, is it true that democracy bring its virtue for all people in the world like in the theory? Or, democracy actually just gives the downside for people? From all of those reasons, a country should not implement democracy system because it results more disadvantages than the advantages.
            Literally, democracy comes from Latin’s word, demos (society) and kratos (government). In history, democracy was originated from ancient Greek civilization in 500 BC. There were many Greek philosophers was deemed that they had given great contribution to the development of democracy. Later, democracy grew up and became prevalent ideas among many countries in Europe until it goes to the Middle East now (Iskandar, 2009:8-9). In Indonesia itself, democracy emerged after the New Order era fell down and then changed to Reformation era in 1998.
            In fact, democracy just wins in the theory but not in the reality. The theory said that democracy is from the people, by the people, and for the people somehow cannot drive a country to construct the government like on it. Take, for example Indonesian democracy. “Kepala Divisi Penelitian Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Kurniawan Zein berpendapat hasil survei IndoBarometer merupakan lonceng krisis kepercayaan masyarakat pada lembaga demokrasi. Rakyat tidak hanya kecewa dengan kinerja pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono melainkan terhadap tiga institusi demokrasi yakni eksekutif, legislatif dan yudikatif” (vivanews.com). It indicates that the government’s work does not produce a development through the condition of the society. It seems that there is a huge gap between the government and society. Therefore, democracy proves to society that it cannot bring the merits for Indonesian.
            Besides, democracy seems do not have strong standard or principle in practice. It does so because democracy tends to show off freedom excessively. It makes as if there are no border and limitation in everything. Thus, there are many issues like, free sex, drug abuse, pornography, privatization, terrorism, corruption, abortion arouse because the moral, ethic, and law are weakened by the freedom. Those freedoms also create chaos which egoism, individualism, selfishness, greed, and fanatic collide each other. The law is likes an object that can be sold and bought easily. Moreover, the law makers (legislative) also seems do not tend to the society and even they support the elite or their own interest.
            Furthermore, democracy produces poverty, economic imperialism, social disintegration, etc. It is because democracy cannot avoid the influence of capitalism and liberalism systems which have high effect to the economic system and social life of democratic government. Democracy always create many opportunity of the open access to the capitalism and liberalism in this globalization era. Even though some economist believe that the Adam Smith’s thought about capitalist economy (neo-liberalism) can create prosperity to the society but the reality seems cannot be hidden that this system bring misery to the global economy (Triono, 2009:79). They produce high discrepancy between rich and poor people. Everything can be bought, even law, if anyone has much money and authority. This undemanding access also makes Indonesian government has to bear swollen debt (Triono, 2009:122). Besides, high exploitation of natural resources in Indonesia also easily happens because of the fragile law (privatization policy) and the delicate power of Indonesian government.
            In addition, democracy such create imbalance social life because of the existence of human rights. Almost in every case about violence, terrorism, sexual-harassment is always connected with human rights. However, democracy seems does not really support the human rights even though it give great space for human rights’ existence. For instance, the issue of Palestine and Israel which have not been solved yet until now is the evidence that democracy blinds with human rights and humanity. Even, the United States of America, the greatest democratic government in the world that masterminds human rights, cannot do anything to stop the Israel’s imperialism toward Palestinian. The United States of America even supports Israel to continue their imperialism in Palestine. In 2008, America gave fund to Israel around 120 million dollars to help the economy and the military of Israel (Khairi&Bukhari, 2009:199). Where is their humanity? Not only USA but also every country in this world, United Nations, Arab League, and even Indonesia, who is admitted as the greatest Muslim in the world, just ignore the suffering of Palestinian there. They pretend to become deaf, blind, and dumb when they have to face the conflict of Palestine and Israel. Probably, just few people who still have humanity to save and help Palestinian try hard to make them free.
However, people seem cannot rebuff that democracy is a better system the repressive governments nowadays because the theory lead to a government which can create prosperity, justice, and safety to the country. So, some countries take this system to create a better government than the repressive government. Some western thinkers also still support the democracy and keep in faith that democracy is the best system today. They also think that people still have chance to create a good democracy to lead a government.
In fact, the theory of democracy cannot imply to the reality and cannot be proven in practice. So that, we have to face the reality that democracy actually bring dreadful things than its virtues in the theory. People have to open their eyes, their hearts, and their minds that democracy is the ill system. Therefore, a country should not implement democracy system in creating the real prosperity, justice, and safety.

References: 
http://politik.vivanews.com/news/read/220698-ini-krisis-lembaga-demokrasi--tak-hanya-sby
Iskandar, A.B. (ed). 2009. Ilusi Negara Demokrasi. Bogor: Al-Azhar Press.
Khairi,G.A, Bukhari,A. 2009. Air Mata Palestina. Jakarta: Hi-Fest Publishing.
Triyono, D.C. 2009. Demokrasi dan Ancaman Ekonomi Neo-Liberal. In Iskandar, A.B. (ed) Ilusi Negara Demokrasi. Bogor: Al-Azhar Press.
Triyono, D.C. 2009. Demokrasi Penjajah Ekonomi. In Iskandar, A.B. (ed) Ilusi Negara Demokrasi. Bogor: Al-Azhar Press.