“Na…,” begitulah ibuk biasa memanggilku.
Orang bilang aku semakin mirip ibukku. Ada pula yang berusul sekilas aku mirip
dengan kakakku karena aku nakal. Yang jelas aku tak mirip dengan tetangga
kampung seberang. Ah, tau apa bocah dua tahun ini. Yang aku tahu aku suka makan
kerupuk. “Kupuk...puk…,” begitu rengekku pada mama. Aku suka bermain tanah di
halaman belakang rumah. Terkadang, aku dan kakakku suka bermain bersama. Tapi
itu pun hanya siang hari saat ia pulang dari sekolah. Kalau pun libur, ia lebih
banyak menghabiskan waktunya untuk bermain play
station.
Ayah adalah orang pertama yang
menginginkanku bahkan sebelum aku dilahirkan. Beliau begitu sangat ambisius
ingin memilikiku karena istrinya tak mungkin bisa melahirkan lagi. Ah, tau apa
bocah dua tahun ini. Aku memang dilahirkan dari rahim seorang ibu. Namun ia tak
pernah menyusuiku, menimangku, meninabobokkanku, bahkan tersenyum manis padaku adalah
sebuah keniscayaan yang tidak mungkin terjadi. Ibuku terlalu takut menghadapi cemooh
dan cibiran atau mungkin kutukan saudara-saudaranya, kerabat-kerabatnya,
teman-temannya dan mungkin juga tetangga-tetangganya. Ia terlampau paham bahwa
dirinya terlanjur basah dalam air limbah yang membusuk. Dirinya telah
ternistakan oleh belaian lelaki amoral dan tak berperikemanusiaan. Mungkin ia menyesal, mungkin juga tidak. Ia
terlalu belia untuk mengeluarkanku dari rahim jahanamnya. Mungkin karena itulah
dengan gembira ia menyerahkanku pada ayah. Mungkin bila ia membiarkanku dalam
buaiannya, aku akan menjadi penghalang terbesarnya untuk menatap dunia,
menikmati kembali udara segar di luar sana. Itu pun jika masih tersisa
untuknya. Ah, tau apa bocah dua tahun ini.
“Na… ,” begitulah ibuk biasa
memanggilku. Entah mengapa aku begitu senang sekali jika bertemu dengan ibuk.
Ibuk adalah sosok wanita yang terlalu amat penyayang walau terkadang ia geram
melihat tingkahku yang tak karuan. Rumah ibuk adalah tempat pertama aku
dititipkan setelah transaksi secara sembunyi-sembunyi berhasil dijalankan.
Dengan sejumlah uang itulah, ayah bisa leluasa menimangku. Ah, tau apa bocah
dua tahun ini. Saat itu rumah ayahku sedang dalam renovasi. Jadi sementara
waktu aku dititipkan di rumah ibuk. Ibuk begitu senang dan mungkin juga
prihatin saat menggendongku yang mungkin masih berumur hari. Selama sepuluh
hari aku dititipkan di rumah ibuk. Mamaku bahkan hanya sesekali saja menengokku
di rumah ibuk. Pada awalnya pun, aku tak yakin apakah mama ku nanti bersedia
merawat dan membesarkanku di rumahnya. Mungkin hatinya merasa bengkak ketika
suaminya memutuskan untuk memilikiku dari tetangga seberang. Namun ia tak bisa
berulah banyak karena suaminya terlalu memuncak untuk bisa mendekapku erat. Ah,
tau apa bocah dua tahun ini.
Kehadiran pertamaku di rumah mama terasa
sangat biasa-biasa saja. Hanya mungkin di awal waktu ayah masih sangat sering
menemaniku. Namun setelah itu, beliau kembali pada penghidupannya lagi yaitu
berjualan tempe. Kini, mamalah yang setiap hari memandikan, mengganti popok,
membuatkan susu formula, dan menyuapiku makan. Meski ku tahu dalam hatinya
banyak batu kerikil yang menumpuk terlalu banyak hingga tak jarang aku
dibentaknya karena tak kunjung mau tidur terlelap. Terkadang ia sematkan
tangannya di tubuhku karena aku terlalu banyak tingkah ketika dipakaikan baju.
Terkadang pula ia biarkan aku dipermainkan oleh kakakku. Ah, tau apa bocah dua
tahun ini.
Perlahan waktu, aku sedikit bisa
diterima dalam keseharian mereka. Walau aku lebih banyak diabaikan namun
setidaknya aku merasa lebih baik daripada aku dirawat oleh tangan seorang ibu
yang hatinya terlanjur membusuk dan bernanah untuk menggendongku. Masih
pantaskah ku sebut dia ibu? Mungkin ia yang seharusnya pantas bertitel “haram”, wanita jahanam. Tapi dunia terlalu
tabu untuk mendengarnya. Mereka lebih damai bila yang masih polos dan antipati
klimaks sepertiku ini menyandang gelar “anak haram”. Mungkin tak hanya wanita
haram yang harus disalahkan. Tapi lelaki laknat juga patut dirajam siksa. Dunia
terlalu murah untuk membeli bocah-bocah sepertiku. Di sudut kota, di keramaian
malam, bahkan dalam kegelapan sawah pun mereka bisa tawar-menawar untuk
memperebutkan bocah seperti aku. Ah, tau apa bocah dua tahun ini.
“Na… ,” begitulah ibuk biasa
memanggilku. Meski aku sudah resmi menjadi anak dari ayah dan mamaku, terkadang
ibuk masih sering mengajakku ke rumahnya. “Buk…,” begitulah celotehku saat lidahku
mulai berani bersilat. Itulah kata pertama yang ku ucapkan padanya. Entahlah
mengapa aku berkata demikian. Mungkin karena beliau yang pertama kali merawatku
saat setelah aku dilarikan kabur dari rumah sakit. Ketulusannya, keikhlasannya,
dan kesabarannya tak membuatku ragu untuk memanggilnya ibuk. Bersamanya adalah
seperti berada di telaga Firdaus. Tiada pernah merasa kehausan ataupun
kekenyangan karena meminumnya. Menyejukkan dan mendamaikan hatiku yang
terlampau sakit karena wanita jahanam dan lelaki laknat. Ibuk adalah istri dari
kakak ayahku. Bapak, suami ibukku pun juga tak jauh berbeda dengan ibuk. Bahkan
ia rela meneteskan air mata tatkala aku kerap kali tersungkur di lantai.
Mungkin ia tahu bagaimana rasanya menjadi bocah kecil yang dibuang oleh lelaki
laknat itu. Bocah yang terlampau polos dan lugu untuk menelan kepahitan sejak
masih dalam kandungan. Bahkan mungkin setelah tragedi tawar-menawar itu, wanita
haram mulai panik saat tau bahwa Tuan Besar mengabulkan tawarannya. Ia pun
sesegera mungkin merancang strategi untuk membinasakanku dari kehidupannya. Dasar
wanita bodoh! Ah, tau apa bocah dua tahun ini.
Kehidupan semakin berjalan biasa-biasa
saja. Mungkin aku bukan yang pertama sukses menjadi hasil tawar menawar itu. Di
kampungku sendiri, prestasi-prestasi kesuksesan itu sudah banyak
diperbincangkan dan menjadi sorotan hangat. Wanita yang terpaut sedikit lebih
tua daripada wanita jahanamku itu layak disebut dengan wanita haram juga meski
dengan sedikit rasa malu dan berwajah batu, ia dan pasangan sepermainannya masih
berkenan merawat bocah hasil tawar-menawar. Dengan rasa yang terlanjur malu
besar, orangtua wanita haram itu hanya bisa tertunduk lemas dan seakan tak
percaya gadis lugunya itu telah dinodai oleh tangan jahil lelaki berseragam
abu-abu. Sepandai-pandai orang menyimpan bangkai, baunya pasti akan tercium
juga. Tetangganya terlalu mudah bersarkastik ria dalam berdiskusi membicarakan
bencana di keluarga wanita haram. Seolah itu telah menjadi tradisi
turun-menurun. Mereka terlampau bangga dan terbahak-bahak, bahkan berani saling
sikut dan menyerang antar tetangga untuk berebut pendengar kicauan demokratisnya
yang setia. Walaupun begitu, mungkin ia lebih baik dari wanita jahanam dan
lelaki laknatku. Setidaknya bocahnya tak terlalu banyak diperbincangkan dan
dicibir orang-orang meski mereka juga dapat giliran. Ah, tau apa bocah dua tahun
ini.
Setelah aku pun, masih ada pasangan yang
terpaksa menandatangani proposal tawar-menawar berikutnya. Awalnya, tak ada
yang tau jika ia sedang hamil karena memang ia bertubuh gemuk. Namun semakin
lama kegemukannya nampak ganjil karena hanya perutnya yang tampak membuncit.
Hingga akhirnya sang orangtua wanita itu begitu shock dan sangat terpukul tatkala mengetahui bahwa anak gadis
satu-satunya mereka harus memangku jabatan wanita bernoda nista. Mirisnya, si
pasangan sepermainannya tak mau tau apa yang sedang terjadi pada wanitanya.
Jadilah si bapak wanita hina itu bak menenggak seribu pil koplo. Pikirannya
terlanjur mabuk dan naik pitam. Dicarilah lelaki pengecut yang telah
mengangkangi anak gadis satu-satunya yang mana lelaki masih berpangkat seragam
abu-abu itu sempat kabur bersembunyi di ketiak bapaknya. Ah, tau apa bocah dua
tahun ini.
Suatu hari, Mas Nando, anak laki-laki
ibukku disuruh membeli pampers di
warung saat aku sedang bermain di rumah ibuk. Tak direncana warung yang buka di
kampung ibuk hanya milik orangtua si wanita haramku. Sepulang dari warung itu,
Mas Nando melapor pada ibuk. “Gratis, buk. Maeng aku ditakoni pampers-e gawe sopo. Yo tak jawab gawe
Na1,” katanya datar. Ibuk hanya diam. Namun mungkin dalam batinnya,
beliau pasti berkomentar seluas lautan. Ah, tau apa bocah dua tahun ini. Usut
punya usut, hiyakatku sedikit menyakitkan hati. Bapak si wanita jahanamku
adalah pendukung setia rencana kejinya. Bapak tamak itu bertitah bilamana anak
yang dilahirkan nanti lelaki maka keluarganya sendiri yang akan merawatnya
karena dalam keluarganya ia tak punya anak laki-laki pun dengan cucunya. Namun
bila nanti yang terlahir perempuan, dan itu aku, maka dengan senang hati ia janjikan
pemberian bersyarat pada ayahku yang sebelumnya telah memesan si jabang bayi
pada keluarga itu. Malang nian suratan Tuan Besar pada bocah sepertiku ini.
Tapi tentu aku tak layak untuk memprotes demikian. Ah, tau apa bocah dua tahun
ini.
Aku tak bisa menyalahkan Tuan Besar tersebab
yang menggebu-gebu melobi abdi-abdi hitam Tuan Besar adalah wanita jahanam dan
lelaki laknatku. Merekalah yang patut dan sangat layak untuk disalahkah,
dituntut, dan dihukum di tiang gantungan. Mereka adalah orang terbodoh yang
pernah ku tahu dalam hidupku. Saking bodohnya hingga bisikan abdi-abdi hitam Tuan
Besar pun mereka indahkan juga. Mereka terlalu serakah hingga tergiur oleh
retorika-retorika abdi-abdi hitam Tuan Besar yang orasinya mengalahkan SPG-SPG2
andal di showroom mobil dan toko kecantikan. Ah, tau apa bocah dua tahun ini.
Aku tak merasa heran dengan begitu
banyaknya tragedi tawar-menawar itu. Beratus tahun yang lalu atau mungkin
berpuluh tahun kemudian, sudah ada dan masih akan ada banyak calon-calon penawar
yang mengajukan proposalnya pada Tuan Besar. Ada yang berlatar belakang suka
sama suka, cinta abadi, janji sehidup semati
atau hanya sekedar untuk meramaikan parodi panggung hiburan saja. Mulai
dari yang berbau kencur sampai yang berdarah uang pun ikut mengantri di loket
pengajuan proposal tawar-menawar di kantor Tuan Besar. Tak ayal jika semua itu
sudah dianggap sangat biasa-biasa saja, lumrah, dan pasaran. Bahkan mungkin
mereka sudah siap jikalau nanti harus meneguk bir hawiyah3 dan mengunyah
dendeng berbahan dasar saripati calon si bocah sebagai prasyarat diluluskannya
proposal mereka oleh sang Tuan Besar.
Seandaikan nanti dunia menemui ajalnya,
aku ingin mengajukan jadwal perjamuan khusus dengan Tuan Besar. Aku ingin
mengajukan proposal sebab-akibat pada Tuan Besar. Aku ingin akibat tahunan yang
ku tanggung ini menjadi pemberat timbangan untuk orangtua laknatku. Tersebab
mereka telah mengajukan proposal tawar-menawar bodoh itu. Tersebab mereka telah
mengabdi menjadi pelayan setia abdi-abdi hitam. Tersebab mereka membuang dan
menyia-nyiakan hasil proposal tawar-menawar mereka pada Tuan Besar. Maka pantaslah
bagi mereka untuk menjadi penghuni abadi sel hell4 selama-lamanya. Namun aku tak jua yakin bila Tuan
Besar mau meloloskan proposal sebab-akibatku ini. Bisa jadi Tuan Besar sedang
menunjukkan ke-Maha Hebat-an yang tiada terduga yang tak satu manusia pun bisa
menjangkaunya. Biarlah, Tuan Besar sudah teramat sangatlah rapih dalam
menyimpan semua rahasia di balik tabir jagad raya. Bisa jadi malah aku yang
nanti dijebloskan oleh Tuan Besar di sel hina dan nista itu. Ah, tau apa bocah
dua tahun ini.
Aku memang teramat pedih merasakan
penghinaan wanita jahanam dan lelaki laknat itu terhadapku. Mereka tertawa dan
bersenang-senang di atas penderitaan batinku selama ini. Namun aku bukanlah
Tuan Besar yang bisa melakukan apapun sekehendaknya. “Kun fayakun!”5
Mantra keagungaan Tuan Besar itu tak akan pernah mungkin bisa ku alamatkan pada
orangtua hinaku. Aku teramat rapuh dan gopoh untuk sekedar bisa mengingat
mantra agung itu. Sudahlah aku bosan mencaci. Aku tak ingin menjadi sama
seperti tetangga yang berlagak demokratis dan retoris. Aku tidaklah bodoh
seperti orang tua jahanamku. Cukuplah ku titipkan surat permohonan belas kasih
dari Tuan Besar agar kelak aku dikumpulkankan bersama dengan orang-orang yang
tulus merawat dan menyayangiku di istana megahnya. Ibuk, Bapak, Ayah, dan Mama,
merekalah penyemangat hidupku yang semoga kelak bisa bersama-sama denganku
tinggal di istana megah milik Tuan Besar. Ah, tau apa bocah dua tahun ini.
Langit masih nampak bersemburat api
liar. Aku masih digendong ibuk di depan rumah mama. Ia nampak kokoh menatap
kendaraan yang hilir-mudik di dekat terminal.
1:
“Gratis buk. Tadi saya ditanya pampers-nya
untuk siapa. Ya saya jawab itu untuk Na.”
2:
Sales Promotion Girl (wanita yang
mempromosikan produk atau jasa)
3:
Neraka hawiyah yang terdapat api yang sangat panas (QS.Al-Qari’ah:10-11)
4:
Neraka
5:
“Jadilah, maka terjadilah ia!”



